FGD PENGEMBANGAN APLIKASI DIGITAL PENDIDIKAN POLITIK BERBASIS GEDSI UNTUK KOMUNITAS BALEE INONG KOTA BANDA ACEH

12 Jul 2025 | Berita


Meulaboh, 12 Juli 2025 — Tim peneliti dari Universitas Teuku Umar (UTU) bersama Universitas Syiah Kuala melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengembangan Aplikasi Digital Pendidikan Politik Berbasis GEDSI pada Komunitas Balee Inong Kota Banda Aceh”. Acara ini berlangsung di Meeting Room Grand Mahoni Hotel, Banda Aceh, pada Sabtu (12/7/2025).
Kegiatan yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Dikti Saintek ini digagas oleh kolaborasi akademisi, yakni Yeni Sri Lestari, S.IP., M.Soc.Sc (Universitas Teuku Umar) selaku ketua tim peneliti, Aminah, S.IP., M.IP (Universitas Syiah Kuala), Agam Rizky Syahputra, ST., M.Si., E.Appln&E (Universitas Teuku Umar), serta dua mahasiswa UTU yaitu Cut Adira Sapitri dan Lismayiar.
FGD ini menghadirkan 20 Ketua dan Sekretaris Balee Inong dari seluruh kecamatan di Banda Aceh, Kepala Dinas DP3AP2KB Kota Banda Aceh (yang diwakili oleh Kepala Bidang Kesetaraan Gender, Sri Syahrawati, SKM), serta perwakilan Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Banda Aceh yang membidangi isu perempuan, Ibu Faizah, S.HI — mantan Ketua Balee Inong Kota Banda Aceh.
Sesuai agenda, kegiatan ini seharusnya dibuka langsung oleh Kepala Dinas DP3AP2KB Kota Banda Aceh, Ibu Cut Azharida, S.H. Namun karena berhalangan hadir, beliau diwakili oleh Ibu Sri Syahrawati, SKM. Dalam sambutannya, Sri menyambut baik kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah, serta menekankan pentingnya integrasi program pemberdayaan perempuan dengan kebutuhan komunitas akar rumput seperti Balee Inong.
FGD ini bertujuan menggali kebutuhan dan aspirasi komunitas Balee Inong dalam memperkuat partisipasi perempuan di ruang publik melalui pendidikan politik dan pemanfaatan teknologi digital yang berperspektif GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion). Selain itu, kegiatan ini juga membahas pentingnya legalitas kelembagaan Balee Inong agar komunitas ini mendapatkan pengakuan formal sebagai badan hukum yang sah dan memiliki ruang gerak lebih luas dalam kegiatan sosial-politik.
Ketua tim peneliti, Yeni Sri Lestari, dalam paparannya menyampaikan urgensi peningkatan literasi politik perempuan dan transformasi digital komunitas melalui aplikasi yang tengah dikembangkan.
“Kami melihat pentingnya komunitas seperti Balee Inong memahami hak-hak politiknya serta mendapatkan akses pada platform digital yang ramah gender dan inklusif. Upaya ini tidak hanya untuk edukasi, tapi juga untuk membuka jejaring dan memperkuat peran perempuan dalam pengambilan kebijakan publik,” jelas Yeni.
Turut menjadi narasumber dalam kegiatan ini, Rachmatika Lestari, S.H., M.H., yang membahas pentingnya proses legalisasi komunitas sebagai bagian dari penguatan kelembagaan sipil yang inklusif.
Melalui diskusi yang interaktif, para peserta menyampaikan kebutuhan komunitas Balee Inong terhadap akses informasi, program pemberdayaan ekonomi, dan dukungan advokasi yang lebih luas melalui media digital. Temuan dari FGD ini menjadi masukan penting bagi DP3AP2KB dalam menyusun strategi sinergi program pemberdayaan perempuan di Kota Banda Aceh ke depan.
Kegiatan ini diakhiri dengan kesepakatan awal untuk menjalin kolaborasi yang lebih intensif antara pihak akademisi dan pemerintah daerah, khususnya DP3AP2KB, guna mendorong lahirnya kebijakan dan program pemberdayaan yang lebih responsif terhadap kebutuhan komunitas perempuan.

Chandra